Jumat, 09 Mei 2008

BISNIS

Kata business ––yang di Indonesiakan menjadi bisnis–– umumnya menunjuk pada aktivitas komersial yang diselenggarakan untuk memperoleh nafkah hidup sehari-hari. Aktivitas komersial itu secara lebih tegas dapat dikatakan sebagai aktivitas untuk mencari keuntungan yang utamanya berdimensi finansial. Dengan demikian kata bisnis memiliki keterkaitan dengan kata perusahaan. Sebab dalam bahasa hukum, perusahaan dibedakan dengan yayasan antara lain karena tujuan perusahaan adalah memperoleh keuntungan, sementara yayasan seharusnya didirikan untuk maksud yang bersifat non-komersial. Perusahaan itu sendiri merupakan suatu badan hukum atau badan usaha yang umumnya dimiliki oleh dua orang atau lebih, bersifat privat (keluarga) atau publik (swasta maupun BUMN), dan memiliki hak dan kewajiban sama seperti ‘orang’.

Bisnis juga dapat dipahami dalam makna yang lebih luas seperti ungkapan “It is not my business” yang terjemahannya kira-kira “Itu bukan urusan saya” atau “Itu bukan tanggung jawab (pekerjaan) saya”. Di sini kata bisnis tidak dipergunakan melulu dalam arti aktivitas komersial, tetapi lebih luas dari itu. Para politikus dan wakil-wakil partai politik di DPR, misalnya, tidak bertanggung jawab atas manajemen pemerintahan sehari-hari sebab “Itu bukan urusan kami, tapi urusan Presiden dan para pembantu-pembantunya”. Sekolah dan universitas, misalnya, tidak bertanggungjawab untuk memastikan lulusannya diterima atau tidak bekerja di berbagai badan usaha yang ada, sebab “Itu lebih merupakan urusan masing-masing individu untuk mencari nafkah yang cocok dengan minat, pengetahuan, dan keterampilannya”. Dengan kata lain kata bisnis dikaitkan dengan unsur tanggung jawab yang melekat pada individu atau badan usaha komersial maupun non-komersial.

Adalah menarik bahwa dalam bahasa Swedia, business diterjemahkan menjadi “naring liv” yang berarti “nourishment for life” atau ‘makanan’ untuk hidup . Sementara dalam bahasa Tiongkok Kuno, dua kata yang menunjuk pada business mengandung pengertian “life”, “live”, “survive”, “birth” , dan “meaning” (DeGeus: 1997). Jadi, baik di Swedia maupun Tiongkok Kuno, bisnis bukan sekadar soal aktivitas komersial, tetapi soal hidup, kehidupan, aktivitas mempertahankan kehidupan, kelahiran, dan makna kehidupan . Jika demikian, maka setiap orang pada dasarnya adalah businessman atau businesswomen , pelaku bisnis. Sebab bukankah setiap orang memiliki tanggung jawab untuk tetap hidup, mempertahankan kehidupan, dan memaknai kehidupannya masing-masing?[aha]

* Andrias Harefa adalah trainer, speaker, dan penulis 30 buku laris. Ia dapat dihubungi di: aharefa@cbn.net.id.

Tidak ada komentar: